FIT MODEL KOPERASI


FIT MODEL KOPERASI

Sesuai dengan prinsip identitas ganda, maka para anggota koperasi adalah pemilik dan sekaligus sebagai pengguna jasa atau pelanggan bagi koperasi tersebut, untuk itu

Hanel, Alfred (1989) membagi partisipasi anggota koperasi menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Partisipasi anggota sebagai pemilik.

Partisipasi ini sering disebut dengan partisipasi kontributif, karena para anggota berpartisipasi dengan memberikan kontribusinya terhadap pembentukan dan pertumbuhan koperasi, dalam bentuk keuangan, misalnya membayar simpanan-simpanan, pembentukan cadangan dan penyertaan modal (capital resources). Di samping itu, para anggota juga mengambil bagian dalam penetapan tujuan (goal system), ikut serta dalam pengambilan keputusan (decision making), dan ikut serta dalam mengawasi jalannya koperasi (control).

2. Partisipasi anggota sebagai pelanggan.

Partisipasi ini sering disebut juga partisipasi insentif, yaitu para anggota koperasi memanfaatkan berbagai potensi atau jasa pelayanan yang diberikan koperasi (services) untuk menunjang berbagai kepentingannya, seperti misalnya: pembelian, penjualan, kredit, produksi, dan lain-lain. Partisipasi anggota dalam pemupukan modal memberikan kekuatan finansial bagi organisasi koperasi. Semakin besar modal yang terkumpul, semakin besar pula

peluang untuk memperluas jangkauan usahanya. Koperasi yang bermodal kecil tentu akan mengalami kesulitan dalam bersaing dengan pelaku atau lembaga ekonomi lainnya (tengkulak, pedagang, bank). Partisipasi anggota dalam pembelian lebih ditentukan oleh kesesuaian antara kebutuhan atau keinginan anggota dengan penyediaan barang dan jasa yang dilakukan oleh koperasi. Apabila barang dan jasa yang disediakan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan atau keinginan anggota, maka anggota koperasi tentu tidak akan mau

bertransaksi dengan koperasi. Hal ini sama sekali tidak memberikan kontribusi ke arah pertumbuhan pelayanan koperasi. Partisipasi anggota dalam penjualan barang atau jasa pada koperasi sangat tergantung pada saluran distribusi dan biaya pemasaran. Semakin pendek jalur pemasaran dan semakin rendah biaya pemasaran yang bisa ditawarkan oleh koperasi, maka semakin tinggi manfaat (advantage) yang diterima oleh anggota. Dalam kondisi yang demikian, tidak sulit bagi anggota untuk selaluterusaha meningkatkan partisipasinya dalam koperasi. Partisipasi anggota dalam usaha simpan pinjam biasanya dikaitkan dengan biaya transaksi. Dengan adanya prinsip identitas ganda, di mana anggota sebagai pemilik, sekaligus juga sebagai kreditur dan debitur, maka koperasi dalam meyalurkan kreditnya. tidak perlu menanggung biaya transaksi yang besar. Biaya-biaya transaksi seperti misalnya:

biaya administrasi, biaya informasi, dan biaya pengawasan dapat ditekan serendah

mungkin. Hal ini memungkinkan para anggota dapat menikmati jasa pelayanan kredit

dengan mudah dan ringan.

  1. A.    Partisipasi Anggota Sebagai Upaya Pencapaian Kemandirian Koperasi

Anggota merupakan salah satu pihak yang menentukan keberhasilan sebuah Koperasi, karena berapapun besarnya biaya pembinaan yang dikeluarkan oleh pemerintah, gencarnya kampanye gerakan koperasi serta tingginya dedikasi dari pengurus, Badan Pengawas dan Manager tidak akan membuat sebuah koperasi berkembang tanpa adanya partisipasi aktif dari para anggotanya. Kedudukan anggota dalam koperasi sangat penting karena anggota sebagai pemilik (owners) dan juga merupakan pelanggan (users) bagi koperasi yang menentukan maju dan mundurnya koperasi sesuai dengan pendapat dari Syamsuri SA.(1998:17) yang menyatakan bahwa : “Koperasi hanya bisa hidup, tumbuh dan berkembang apabila mendapatkan dukungan dari para anggotanya, yaitu orang-orang yang sadar akan keanggotaannya, mengetahui hak dan kewajibannya serta mampu dan bersedia mengikuti aturan permainan dalam organisasi Koperasi”.

Selanjutnya diungkapkan oleh Hendar Kusnadi (1999:64) bahwa “Koperasi adalah badan usaha (perusahaan) yang pemilik dan pelanggannya adalah sama, yaitu para anggotanya dan ini merupakan prinsip identitas ganda”, dan dikatakan pula bahwa “Sukses tidaknya, berkembang tidaknya, bermanfaat tidaknya dan maju mundurnya suatu koperasi akan sangat tergantung sekali pada peran partisipasi aktif para anggotanya”. Ke dua pendapat di atas mengungkapkan bahwa anggota yang berperan sebagai pemilik maupun pelanggan merupakan kunci utama dalam kemajuan koperasi, karena koperasi merupakan kumpulan orang-orang dan bukan merupakan kumpulan modal yang menitik beratkan pada partisipasi anggotanya. Keberhasilan suatu koperasi tidak lepas dari partisipasi seluruh anggota baik partisipasi modal, partisipasi dalam kegiatan usaha, maupun partisipasi pengambilan keputusan karena partisipasi anggota merupakan unsur utama dalam memacu kegiatan dan untuk mempertahankan ikatan pemersatu di dalam sebuah koperasi. Dengan demikian partisipasi anggota dalam koperasi diibaratkan darah dalam tubuh manusia, karena pada kenyataannya untuk mempertahankan diri, pengembangan dan pertumbuhan suatu koperasi tergantung pada kualitas dan partisipasi anggota-anggota koperasi. Masalah yang timbul pada pertumbuhan koperasi di negara kita yaitu pertumbuahan kuantitas koperasi tidak diimbangi dengan kualitas yang baik sehingga banyak koperasi yang tidak aktif. Salah satu kendalanya disebakan oleh karena masih banyak anggota yang kurang berpartisipasi aktif di dalam kehidupan berkoperasi, padahal partisipasi anggota dalam koperasi sangat penting peranannya untuk memajukan dan mengembangkan koperasi sesuai dengan pendapat yang diungkapkan oleh Ropke (2003:39) yang menyatakan bahwa :

“Tanpa partisipasi anggota, kemungkinan atas rendah atau menurunnya efisiensi dan efektivitas anggota dalam rangka mencapai kinerja koperasi, akan lebih besar”. Partispasi merupakan peran serta anggota dalam mengawasi jalannya usaha, permodalan dan menikmati keuntungan usaha serta keterlibatan anggota dalam mengevaluasi hasil-hasil kegiatan koperasi. Tanpa adanya partisipasi anggota, koperasi tidak akan ada artinya, dan

tidak dapat bekerja secara efisien dan efektif. Partisipasi anggota terdiri dari beberapa jenis, baik partisipasi dalam kegiatan usaha Koperasi (transaksi jual beli/simpan pinjam dengan Koperasi), partisipasi dalam pemupukan modal (kesadaran anggota dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya, yaitu membayar simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela), partisipasi dalam pengambilan keputusan (mengikuti rapat-rapat anggota) dan partisipasi pengawasan. Kurangnya partisipasi anggota dalam kehidupan berkoperasi akan mengakibatkan koperasi tidak dapat menjadi organisasi mandiri, karena kemandirian disini tidak diartikan secara sempit dalam bentuk materiilnya saja akan tetapi juga dalam wujud mental dan spiritual yang dimiliki oleh seluruh anggota koperasi.

A. Partisipasi Anggota di dalam Koperasi Istilah partispasi secara harfiah berasal dari bahasa asing, yaitu “participation” yang artinya mengikutsertakan pihak lain, dapat juga diartikan sebagai keikutsertaan seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu kegiatan. Partisipasi diartikan Ropke (2003:52) “ suatu proses dimana sekelompok orang (anggota) menemukan dan mengimplementasikan ide-ide/gagasan koperasi” Pengertian tersebut lebih mengarahkan partisipasi pada suatu proses keikutsertaan angggota dalam pengambilan keputusan dalam koperasi. Dilihat dari segi dimensinya menurut Hendar dan Kusnadi (1999:61), partisipasi terdiri dari :

1. Partisipasi dipaksakan (forced) dan partsipasi sukarela (voluntary) Partsipasi dipaksakan terjadi karena paksaan undang-undang atau keputusan

pamerintah untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan. Sedangkan artisipasi sukarela terjadi karena kesadaran untuk ikut serta berpartisipasi.

2. Partisipasi formal dan partisipasi informal

Partisipasi yang bersifat formal, biasannya tercipta suatu mekanisme formal dalam pengambilan keputusan. Sedangkan partisipasi yang bersifat informal, biasanya hanya terdapat persetujuan lisan antara atasan dan bawahan sehubungan dengan partisipasi.

3. Partisipasi Langsung dan partisipasi tidak langsung Partsiipasi langsung terjadi apabila setiap orang dapat mengajukan pandangan, membahas pokok persoalan, mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain. Sedangkan partisipasi tidak langsung terjadi apabila terdapat wakil yang membawa inspirasi orang lain yang akan berbicara atas nama karyawan atau anggota dengan kelompok yang lebih tinggi tingkatannya.

4. Partispasi kontributif

dan partisipasi insentif Partisipasi kontributif yaitu kedudukan anggota sebagai pemilik dengan mengambil bagian dalam penetapaan tujuan, pembuatan keputusan dan proses pengawasan terhadap jalannya perusahaan Koperasi. Sedangkan partisipasi insentif yaitu kedudukan anggota sebagai pelanggan/pemakai dengan memanfaatkan berbagai potensi

pelayanan yang disediakan oleh perusahaan dalam menunjang kepentinganya. Bentuk-bentuk partisipasi anggota dihubungkan dengan prinsip identitas ganda anggota, sebagaimana dikemukakan oleh Alfred Hanel dalam Tim IKOPIN ( 2000:49) yaitu :

1. Sebagai pemilik, anggota harus turut serta dalam mengambil keputusan , evaluasi dan pengawasan terhadap jalannya perusahaan Koperasi yang biasanya dilakukan pada waktu rapat anggota.

2. Sebagai Pemilik, anggota harus turut serta melakukan kontribusi modal melalui berbagai bentuk simpanan untuk memodali jalannya perusahaan Koperasi.

3. Sebagai pemilik, anggota harus turut serta menanggung resiko usaha Koperasi yang disebabkan oleh kesalahan manajemen.

4. Sebagai Pengguna/pelanggan/pekerja/ nasabah, anggota harus turut serta memanfaatkan pelayanan barang dan jasa yang disediakan oleh Koperasi Setiap anggota akan mempertimbangkan&&&

  1. B.     Berbagai dimensi partisipasi anggota dalam koperasi

Jika kita menerapkan konsepsi partisipasi dalam arti luas sesuai dengan devinisi PBB mengenai partisipasi rakyat (bandingkan UN, 1987, hal.225 dan seterusnya)—pada organisasi koperasi dan secara khusus pada pengembangan kelembagaan koperasi (bandingkan Hanel/ miller, 1978, hal. 59 dan seterusnya) kita dapat membedakan berbagai dimensi partisipasi anggota, sesuai dengan peran ganda anggota, yang di tandai oleh prinsip identitas yaitu:

  1. Dalam kedudukan sebagai pemilik, para anggota:
  • Memeberikan kontribusinnya terhadap pembentukan dan pertumbuhan perusahaan koperasinnya dalam bentuk kontribusi keuangan ( penyertaan modal dan saham, pem,bentukan cadangan, simpanan) dan melalui usaha-usaha pribadinnya, demikian pula
  • Dengan mengambil bagian dalam penetapan tujuan, pembuatan keputusan dan dalam proses pengawasan terhadap tata kehidupan koperasinnya, dan
  1. Dalam kedudukannya sebagai pelanggan/ pemakai, para anggota memanfaatkan berbagai potensi yang disediakan oleh perusahaan koperasi dalam menunjang kepentingan-kepentigannya.

Ditinjau dari sudut pandang para anggota perorangan, yang menilai keinginannya, untuk bergabung pada suatu koperasi yang telah berdiri, atau untuk turut serta dalam pembentukan suatu organisasi baru, dimensi-dimensi partisipasiitu saling berkaitan sebagai berikut:

  1. Para anggota perorangan akan berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan suatu perusahaan koperasi yang secara efisien menunjang kepentingannya:
  • Jika kegiatan tersebut sesuai dengan kebetulan khusus usaha tani satuan usaha dan / atau rumah tangganya dan
  • Jika pelayanan itu ditawarkan dengan harga, mutu atau syarat-ayarat yang lebih menguntungkan ketimbang yang diperolehnya dari pihak-pihak lain di luar koperasi itu.
  1. Untuk maksud ini para anggota harus menyetujui dan harus di gerakkan melalui ketentuan-ketentuan organisasi, untuk berperan serta dalam membiayai perusahaan koperasi, yang harus berusaha secara efisien, memiliki kapasitas yang cukup dan struktur organisasi yang sesuai serta manajemen yang profesional, termotivasi dan dinamis sehingga mampu menciptakan potensi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan para anggotannya secara efisien sesuai dengan kebutuhan kepentingan dan tujuannya;
  2. Hal itu berarti bahwa para anggota (harus) memiliki hak dan kesempatan serta termotifasi, dan sanggup berpartisipasi dalam mengabil keputusan ndmengenai tujuan yang hendak di capai dan dalam mengambil keputusan mengenai tujuan dan hendak di capai dan dalam mengendalikan/ mengawasi prestasi organisasi koperasi dan perusahaan ikoperasinnya.
  1. C.    Berbagai insentif dan kontribusi para anggota perorangan

Uraian secara singkat berbagai insentif dan kontribusi para anggota perorangan sebagai berikut:

  1. Peningkatan pelayanan secara efisien melalui penyediaan barang dan jasa oleh perusahaan koperasi tampaknya merupakan perangsang yang sangat penting bagi (kebannyakan) anggota untuk turut serta memberikan kontribusinnya bagi pembentukan dan pertumbuhan koperasi dan untuk mempertahankan hubungan-hubungan usahannya secara intensif dengan koperasi.

Ciri dan intensitas perangsang yang dikehendaki melalui penyediaan barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan para anggota itu. Berkaitan erat dengan kenyataan, apakah dan seberapa jauh barang dan jasa tersebut”

  • Memenuhi kebutuhan yang secara subyektif dirasakan oleh masing-masing anggota, dan dengan demikian meningkatkan kepentingan rumah tangga, usaha tani, atau unit usahannya
  • Sama sekali tidak tersedia baik di pasar maupun oleh lembaga-lembaga pengembangan pemerintah atau semi pemerintah
  • Disediakan dengan harga dan qualitas atau kondisi yang lebih menguntungkan, ketimbang yang ditawarkan di pasar atau oleh badan-badan pemerintah.

Barang dan jasa yang disediakan oleh suatu perusahaan koperasi, yang tidak memenuhi kebutuhan para anggota atau yang disediakan dengan harga lebih tinggi atau dengan kondisi yang lebih jelek daripada yang ditawarkan di pasar, tentu saja bukan merupakan perangsang, malahan merupakan sumbangan atau lawan perangsang, apabila anggota di paksa/ diwajibkan untuk menerimannya.

  1. Kontribusi para anggota bagi pembentukan dan poertumbuhan perusahaan koperasi dalam bentuk sarana keuangan (dan mungkin pula dalam bentuk bahan dan tenaga kerja) akan di nilai (secara subjektif) oleh mereka atas dasar biaya oportunitas (opportunity costs), yang mungkin akan mahal lagi para anggota yang miskin, terutama yang menyangkut sarana keuangan.
  2. Partisipasi dalam penetapan tujuan pembuatan keputusan mengenai berbagai kegiatan, dan dalam pengawasan tata kehidupan koperasinnya—ditinjau dan sudut pandang para anggota—dapat merupakan suatu insentif ataupun suatu kontribusi:
  • Jika anggota dapat memasukkan tujuan-tujuannya ke dalam koperasi menjadi tujuan (atau sistem tujuan yang disepakati) dari kelompok koperasi yang bersangkutan, maka mereka mungkin akan menggangap kesempatan partisipasi itu sebagai suatu perangsang, demikian pula, jika seorang anggota berharap, misalnya, dapat meningkatkan wibawa atau pengaruh sosial   politiknya, anatara lain melalui pembentukan semacam “clientele”(pengikut) dfi kalangan para anggota koperasi
  • Jika partisipasi dalam rapat-rapat dan diskusi-diskusi kelompok memakan waktu, dan akhirnya menimbulkan pula sejumlah badan biaya perjalanan dan sebagainnya, maka anggota akan mempertimbangkan pula biaya oportunitas yang berkaitan dengan itu.
  • Seorang anggota akan menggangap kewajiban untuk berpartisipasi yang hanya bersifat formal semata-mata sebagai sesuatu yang bukanmerupakan insentif atau kontribusi terhadap pelaksanaan prosedur organisasi .yang ditetapkan oleh Undang-Undang dan Anggaran Dasar Koperasi.
  1. Bagan The Fit Model Of Participation

Apabila salah satu dari tiga jenis kesesuaian diatas, tidak terjadi atau dapat terpenuhi, maka anggota akan menggunakan alat partisipasinya dengan keluar dari koperasi (exit) atau anggota yang pasif.
Jurus lain bahwa, partisipasi anggota dipengaruhi oleh keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas koperasi kepada anggotanya.  Hal yang perlu diperhatikan oleh para koperasiawan bahwa, anggota memerlukan laporan pelayanan yang transparan dan akuntabel, yang kemudian dapat disebut neraca Pelayanan. Neraca Pelayanan harus menggambarkan perkembangan koperasi.
Padahal partisipasi anggota dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang melekat pada diri anggotanya maupun bentuk, jenis dan kualitas pelayanan, yang kemudian membentuk kepuasan dan motivasi anggota untuk melaksanakan hak dan kewajibannya. Proses penyusunan Neraca Pelayanan Koperasi Tercermin dalam Perencanaan dan pengendalian Koperasi dalam melakukan Kegiatan pelayanan ke anggota dan bisnis dengan non anggota, ilustrasinya seperti terlihat pada gambar  berikut ini.

C. Determinan Partisipasi

(1) Kesediaananggota untuk memberikan sumbangan cumber daya ekonomis (economic resources);

(2) Keikutsertaan anggota dalam pengambilan keputusan (decision making);

 (3) Kesediaananggota untuk memanfaatkan jasa-jasa / pelayanan koperasi (services)

Lebih jauh Ropke menjelaskan bahwa kualitas partisipasi sangat dipengaruhi oleh interaksi tiga variabel utama, yaitu: anggota, manajemen koperasi, dan program. Suatu ilustrasi yang menerangkan hubungan interaksi antara ketiga variabel partisipasi tersebut telah diperkenalkan oleh Corten, David (dalam Ropke, 2000) di mana partisipasi anggota

akan efektif apabila terjadi kesesuaian antara:

1. Output program koperasi dengan kebutuhan dan keinginan para anggotanya.

2. Permintaan anggota dengan keputusan-keputusan manajemen koperasi.

3. Tugas-tugas program koperasi dengan kemampuan manajemen koperasi.

Kesesuaian antara ketiga variabel partisipasi ini dapat digambarkan dalam suatu

model Triangle Fit of Participation.

Gambar: Triangle Fit of Participation (David Corten),,,,,,,,,,,,,,,,,,,

 

 

 

                                            

(output – Task—Needs—Ability—MAMBERS—MANAGEMENT—Demand—Decision)

Program di susun oleh pengurus dan dibuat oleh pemerintah termasuk anggarannya untuk dilaksanakan oleh koperasi. Program dilaksanakan oleh pengurus sesuai dengan tugas-tugas (task) yang telah dijabarkan. Tugas-tugas tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan (ability) pengurus. Selanjutnya, manajemen membuat keputusan (decision) berdasarkan permintaan (demand) anggota. Permintaan (demand) anggota tersebut harus sesuai (fit) dengan kebutuhan (needs) anggota.

Akhirnya, dilihat apakah keluaran (output) yaitu hasil pelaksanaan programprogram sudah sesuai dengan kebutuhan (needs) dan permintaan (demand) anggota atau tidak. Apabi la sudah sesuai maka partisipasi anggota bisa terus berjalan, sedangkan apabila tidak sesuai maka anggota bisa menekan (mengancam) pengurus dengan alat partisipasi: voice (hak bersuara), vote (hak memberikan suara), dan exit (hak keluar) agar bersedia memberikan output yang sesuai dengan kebutuhan dan perm intan anggota.

Dengan voice, anggota dapat mempengaruhi manajemen koperasi dengan memberikan saran, usul maupun kritik. Dengan vote, anggota dapat mempengaruhi siapa yang akan dipilih sebagai pengurus, pengelola, badan pengawas koperasi, dan lain-lain. Dengan exit, anggota dapat mempengaruhi manajemen dengan meninggalkan (keluar) dari keanggotaan koperasi atau mengurangi partisipasinya terhadap koperasi (menjadianggota pasif).

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwn partisipasi memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang pengembangan usaha koperasi, karena tanpa adanya partisipasi anggota akan terjadi penurunan efisiensi dan efektivitas anggota dalam upaya mencapai kinerja koperasi. Hal ini disebabkan oleh karena kebutuhan anggota yang berubah-ubah, terutama tantangan yang datang dari para pesaing, sehingga peningkatan pelayanan koperasi harus selalu disesuaikan dengan informasi yang didapat dari partisipasi anggota.

  1. D.    Peningkatan Partisipasi

Peningkatan partisipasi mutlak diperlukan bagi pengembangan koperasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Peningkatan partisipasi berarti mengikutsertakan semua komponen atau unsur yang ada sehingga merasa ikut terlibat di dalam proses pembuatan perencanaan dan pengambilan keputusan. Ada berbagai macam cara untuk meningkatkan partisipasi anggota, yaitu dengan menggunakan materi dan nonmateri. Peningkatan partisipasi dengan menggunakan materi dapat dilakukan melalui pemberian bonus, tunjangan, komisi, insentif dan lain-lain. Peningkatan partisipasi nonmateri yaitu dengan cara memberikan suatu motivasi kepada semua komponen atau unsur yang ada agar terlibat secara langsung dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Pengikutsertaan secara langsung semua komponen atau unsur ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada serta tingkat relevansinya. Cara lain untuk meningkatkan partisipasi adalah sebagai berikut (Hendar dan

Kusnadi, 1999):

1. Menjelaskan tentang maksud dan tujuan perencanaan serta keputusan yang akan dikeluarkan.

2. Meminta tanggapan atau saran tentang perencanaan dan keputusan yang akan dikeluarkan.

3. Meminta informasi tentang segala sesuatu dari semua komponen dalam usaha membuat keputusan dan mengambil keputusan.

4. Memberikan kesampatan yang lama kepada semua komponen atau unsur yang ada.

5. Meningkatkan pendelegasian wewenang.

Dalam upaya peningkatan partisipasi tersebut setidak-tidaknya harus mampu meningkatkan rasa harga diri dan menimbulkan rasa ikut memiliki (sense of belonging). Bila hal ini dapat berhasi I, maka di harapkan semangat dan kegairahan kerja serta rasa tanggung jawab anggota atau bawahan akan meningkat, sehingga semua rencana dan keputusan yang dibuat akan dapat dilaksanakan dan direalisasikan dengan lancar dan baik.

  1. Gambar Proses Perencanaan & Pengendalian Kegiatan Pelayanan ke Anggota dan bisnis dengan non anggota

SKPK      = Studi kelayakan Pendirian koperasi
SK3        = Studi Kelayakan Kegiatan koperasi
PKPBK    = Perencanaan Kegiatan Pelayanan dan Bisnis Koperasi
NPK (PBS)    = Neraca Pelayanan koperasi (Promotion Balance Sheets)

Jurus/kiat meningkatkan loyalitas-partisipasi anggota menurut beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan menjadi 2 (dua) hal utama yakni :

  • Membangun kepercayaan penuh dari anggota kepada koperasi dan/ atau para pengurus – pengawasnya;
  • Memberikan manfaat nyata bagi anggota, baik manfaat ekonomi maupun manfaat non ekonomi dari pelayanan jasa/ barang koperasi.

Membangun kepercayaan dari anggota dan optimalnya manfaat koperasi dipengaruhi oleh profesionalisme manajemen. Sebab kepercayaaan anggota akan dipengaruhi oleh transparansi dan akuntabilitas sebagai bagian dari profesionalisme manajemen. Kemudian optimalisasi manfaat koperasi bagi anggotanya, akan dipengengaruhi oleh efesiensi perusahaan koperasi hanya akan bisa dicapai bila perusahaan koperasi profesional.
Namun demikian kiat-jurus atau langkah-langkah kerja yang dapat dilakukan pengurus-manager- karyawan dan pengawas koperasi diantaranya adalah :

  • Kegiatan usaha koperasi yang dijalankan harus selaras dengan kebutuhan para anggotanya, artinya segala gerak langkah koperasi harus selalu ditujukan dalam upaya memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya
  • Usaha yang dilakukan harus memberikan manfaat baik secara langsung maupun manfaat tidak langsung kepada anggotanya
  • Koperasi harus dapat meningkatkan posisi tawar para anggotanya maupun meningkatkan skala ekonomi usaha anggota
  • Komunikasi antara koperasi dengan para anggotanya harus dijaga agar tetap harmonis sehingga dapat meredam segala bentuk ketidaktahuan dan kecurigaan anggota yang biasanya memicu kesalahpahaman dan perselisihan, antara koperasi harus dikelola dengan manajemen profesional open management;
  • para pengelola koperasi harus mampu menciptakan inovasi dalam pengelolaan koperasi untuk memberikan pelayanan yang berorientasi kepada para anggota
  • Para pengelola koperasi harus mampu menjaga dan mengamankan kekayaan para anggotanya yang sudah tertanam dalam koperasi, sehingga kepercayaaan anggota akan terbentuk dan pada akhirnya anggota akan bersedia menanamkan modalnya lebih besar lagi
  • Koperasi harus mampu menciptakan hubungan pasar yang efesien dengan perusahaan lain atau para pengguna jasa lainnya, guna meningkatkan kesejahteraan anggota
  • Pendidikan keanggotaaan harus terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman anggota terhadap peran dan fungsinya.

Selain langkah-langkah yang telah disebutkan di atas, sebenarnya masih banyak upaya lain yang dapat dilakukan oleh para pengelola koperasi dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan partisipasi para anggotanya. Langkah tepat yang dilakukan biasanya akan sangat bergantung kepada kondisi dan waktu dari masing – masing koperasi itu sendiri, sehingga profesionalisme pengelola dalam menentukan langkah dan waktu yang tepat menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan.
Kita yakin bahwa sebuah organisasi akan berkembang apabila organisasi tersebut merupakan organisasi pembelajaran, artinya semua unsur yang ada terus meningkatkan pengetahuan dan wawasannya, sehingga akan tercipta ide dan inovasi baru yang dapat dilakukan. Hal penting lainnya adalah kemauan untuk bercermin dari pengalaman serta seberapa besar keinginan untuk melakukan perubahan. Sehingga kita harus selalu berupaya untuk mengamalkan sunah rasul untuk melakukan hijrah kearah yang lebih baik, dan menyakini bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. (***)

  1. F.     Alat-alat partisipasi

menunjukan terdapat tiga alat utama dimana anggota Koperasi dapat mengusahakan agar di dalam keputusan yang diambil manajemen tercermin keinginan dan permintaaan anggota. Ketiga alat tersebut yaitu :

1.  hak mengeluarkan pendapat (Voice),

  1.  hak suara dalam pemilihan (Vote) dan
  2.  hak keluar (Exit). Dengan ketiga alat tersebut anggota dapat

mempengaruhi manajemn dengan memberikan saran, kritik, mempengaruhi siapa yang akan dipilih sebagai pengurus atau manajer dan mempengaruhi dengan cara meninggalkan (keluar) atau mengurangi pembelian pada Koperasi.

Terwujud atau tidaknya semua bentuk partisipasi anggota itu berkaitan dengan pernyataan apakah para anggota merasa memiliki dan yakin bahwa koperasi adalah wadah yang terbaik untuk memperjuangkan dan mencapai kepentingankepentingan ekonominya.

Kemandirian Dalam Koperasi Mandiri suatu istilah yang dikaitkan pada kemampuan untuk melakukan segala sesuatu oleh diri sendiri, hal ini pun berlaku pada suatu organisasi yang telah mampu untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya tanpa membebani pihak lain. Dalam koperasi kemandirian ini merupakan salah satu prinsip koperasi yang terdapat dalam pasal 5 ayat 1 Undang – Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang harus dijalankan oleh setiap jenis koperasi apapun. Menurut pendapat Sitio (2001:29) “kemandirian pada koperasi dimaksudkan bahwa koperasi harus mampu berdiri sendiri dalam hal pengambilan keputusan usaha dan organisasi”. Dalam hal kemandirian terkandung pula pengertian kebebasan yang bertanggung jawab, otonomi, swadaya, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan segala tindakan dalam

pengelolaan usaha dan organisasi. Peran serta anggota sebagai pemilik dan pengguna jasa sangat menentukan dalam kemandirian koperasi. Bila setiap anggota konsekuen dengan keanggotaannya yaitu berkomitmen dalam setiap aktivitas ekonomi dilakukan melalui koperasi dan tentu saja dengan pelayanan koperasi yang sesuai dengan keinginan anggota maka aspek kemandirian ini akan tercapai. Kemandirian dalam koperasi merupakan faktor pendorong (motivator) bagi koperasi untuk meningkatkan keyakinan akan kekuatan sendiri dalam mencapai tujuan. Akan tetapi pada kenyataannya seperti yang diungkapkan oleh Ropke (2003:19) bahwa : “Koperasi dapat menjadi organisasi yang benar-benar swadaya (mandiri), tetapi koperasi dapat dan sering pula diorganisir untuk memperoleh bantuan dari luar”. Hal itulah yang mengharuskan koperasi memiliki komitmen dalam proses operasionalnya.

Partisipasi anggota yang menentukan kemandirian koperasi Kegiatan koperasi harus didasarkan pada prinsip swadaya atau kemandirian dengan modal utamanya adalah kepercayaan dan keyakinan yang sesungguhnya berakar dari sikap setiap anggota koperasi.

Kemandirian koperasi akan terwujud tidak selalu tergantung dan ditentukan oleh tingkat pendapatan anggota koperasi melainkan oleh suatu keyakinan untuk melakukan usaha bersama dengan memiliki komitmen dan motivasi yang kuat dalam kondisi apapun, dengan kata lain berani menanggung resiko. Anggota yang dalam hal ini sebagai pemeran utama dalam kehidupan berkoperasi memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kekuatan hidup suatu organisasi koperasi. Peran yang dimainkan oleh anggota koperasi sesuai dengan perangkat organisasi yang terdapat dalam koperasi, terdiri dari anggota, pengurus dan pengawas seperti yang tertuang dalam pasal 21 Undang –Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Ketiga perangkat organisasi itu memiliki hak yang dapat diterima dari pelayanan yang diberikan oleh koperasi dan kewajiban yang harus dilakukan untuk kelangsungan hidup koperasi.

Pencapaian kemandirian dalam koperasi memang memerlukan waktu yang tidak sedikit, karena diperlukannya proses sesuai dengan hukum pertumbuhan yang dipaparkan oleh Pumpin dan Range (1991) dalam Ropke (1995:57) bahwa terdapat empat fase yang harus dilalui dalam proses pertumbuhan yang dimulai dengan fase percobaan, perkembanganyang pesat, tingkat penurunan pertumbuhan dan berakhir dengan terjadinya stabilitas atau kemerosotan. Ke empat fase itu harus dapat dilalui dengan baik sehingga akan dapat menghasilkan kemandirian dalam koperasi jika kondisi

organisasi telah stabil. Kestabilan dalam kemandirian ini harus dijaga dengan terus mencari peluang-peluang untuk berkembang dan mempertahankan hidup karena jika tidak dilakukan mungkin kemerosotan yang akan terjadi untuk tahap selanjutnya. Semua ini memang tergantung dari berapa besar partisipasi yang diberikan oleh anggota kepada koperasi yang dapat dilihat dari hubungan identitas yang dapat diwujudkan apabila pelayanan yang diberikan oleh koperasi sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan anggotanya.

Kualitas partisipasi sangatlah menentukan dalam upaya mencapai kemandirian seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa menurut pendapat Korten dalam Ropke(2003:53) membagi kualitas partisipasi menjadi tiga variabel yaitu anggota , manajemen dan program yang dapat menggambarkan partisipasi anggota dalam pelayanan koperasi akan terwujud jika terjalin kesesuaian diantaranya. Selanjutnya dipaparkan pula tentang kesesuaian yang pertama, yaitu antara anggota sebagai penerima manfaat dengan program harus merupakan kesesuaian antara kebutuhan anggota dengan pelayanan dan sumber-sumber daya yang disediakan koperasi sebagai output dari program. Kesesuaian yang kedua, yaitu antara anggota dan manajemen dimana anggota harus memiliki kemampuan dan mau untuk mengartikulasikan kebutuhan mereka dalam suatu keputusan yang diberikan oleh manajemen dalam suatu organisasi koperasi. Kesesuaian yang ketiga, yaitu harus adanya kesesuaian antara program dan manajemen dimana manajemen kopersai harus mampu melaksanakan kepentingan tugas program sesuai dengan kebutuhan anggota. Korten dalam Ropke (1995:59) memperkenalkan pendekatan proses belajar yang ideal manajemen bagi pengembangan program dalam koperasi terdiri dari tiga tahap belajar yaitu :

1. Belajar menjadi efektif, tujuan dari proses belajar ini adalah untuk mencapai efektivitas pengembangan anggota koperasi dan tugas utamanya adalah memperoleh keuntungan komparatif koperasi dan mendirikan organisasi untuk melaksanakan peluang tersebut.

2. Belajar menjadi efisien, tujuan dari proses belajar ini merupakan tindak lanjut dari tercapainya efektivitas yang sudah mapan dan tugas utamanya adalah memaksimumkan kesejahteraan anggota, hal ini dapat dilaksanakan karena kekurangtahuan/ketidaktahuan dalam fase ini telah dapat diatasi.

3. Belajar memperluas, tujuan dari proses ini adalah untuk membangun organisasi yang lebih besar dalam mendapatkan keuntungan potensial yang berlipat ganda, dan tugas utamanya yaitu melakukan perluasan peluang yang diberikan koperasi terhadap anggota secar efektif dan efisien Fase belajar memperluas memiliki karakteristik kemantapan dimana pada fase ini koperasi telah sarat pengalaman dan telah melalui proses untuk menuju kemandirian dalam berkehidupannya.

Jika koperasi berada dalam kondisi dapat memperluas usahanya maka kemandirian sudah terdapat didalamnya. Kesesuaian antara anggota, manajemen dan program merupakan suatu keterikatan dalam mencapai suatu tujuan akan tetapi anggota tetap memiliki prioritas utama dalam menentukan kemandirian koperasi, karena partisipasi anggota sebagai pemilik dan pengguna jasa merupakan kunci utama dalam penentuan kualitas partisipasi yang terdapat dalam koperasi. Sebagai pemilik, anggota harus dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, menyetor simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai sumber modal koperasi, dan mengendalikan/mengawasi gerak langkah koperasi agar sesuai dengan kepentingan ekonomi anggota. Sebagai pengguna jasa, anggota harus dapat memanfaatkan pelayanan-pelayanan yang diselenggarakan koperasi untuk memenuhi kepentingan anggota. Sehingga dalam hal ini kontribusinya jelas antara anggota terhadap koperasi ataupun dari koperasi terhadap anggota yang akhirnya akan melahirkan suatu kerjasama yang baik yang membuahkan hasil berupa kemandirian. Kemandirian koperasi dalam hal ini meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan adanya partisipasi anggota secara sukarela yang semakin kuat baik dalam bentuk simpanan, transaksi-transaksi maupun pemanfaatan jasa-jasa pelayanan koperasi secara optimal. Berhasil tidaknya kemandirian koperasi tidak selalu bergantung dan ditentukan oleh tingkat pendapatan anggota melainkan oleh keyakinan melakukanusaha bersama meskipun dalam kondisi masih lemahnya tingkat ekonomi masyarakat anggota koperasi itu sendiri. Sebagai salah satu lembaga ekonomi yang bertujuan untuk mensejahterakan anggota dengan idealisme mengembangkan rakyat kecil selayaknya koperasi mempertimbangkan kaidah-kaidah usaha ekonomis profesional yang tidak keluar dari jati diri koperasi. Perluasan usaha koperasi mandiri menuju globaliasi ekonomi dimungkinkan jika koperasi memiliki sarana dan prasarana pendukung diantaranya adalah modal yang memadai. Dalam praktek kemandirian koperasi tidak berarti harus menolak atau mengesampingkan bantuan dari pihak ke tiga, akan tetapi dalam perkembangan bertahap menuju posisi koperasi mandiri yang lebih mantap terkadang dibutuhkan bantuan dan dorongan dari pihak ketiga. Upaya menambah modal dengan meminjam kepada pihak ke tiga merupakan salah satu contoh kegiatan koperasi yang tidak dapat ditafsirkan sebagai satu hal yang melemahkan kemandirian koperasi, akan tetapi hal itu dapat dipandang sebagai suatu kondisi yang bersifat merangsang perkembangan koperasi dan tentunya harus dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang.

  1. G.    Catatan – catatan akhir mengenai kompetensi dan kemampuan para anggotan berkenaan dengan partisipasi yang efektif dalam koperasi

Dengan memperhatikan peran anggota sebagai pemilik, maka secara khusus, prasyarat-prasyarat itu berkaitan dengan:

  • Kesediannya untuk bekerjasama dan kesiapannya untuk mengubah perilaku tradisional serta keikut- sertaannya dalam suatu organisasi swadaya yang inovatif dan berorientasi pada anggota
  • Sumberdaya yang tersedia padannya agar dapat memberi kontribusi dalam pembentukan perusahaan koperasi, dan
  • Tingkat pendidikannya dan informasi yang dibutuhkan, agar mampu turut serta secara aktif dalam diskusi-diskusi dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penetapan sasaran, perumusan kebijakan  (usaha) dan poengendalian prestasi perusahaan koperasinnya.

About didik412

simple,,,,,,
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s